Sunday, May 13, 2012

Ketika Aku dan Aku Bercakap


Entah apa yang salah dengan belakangan ini, beberapa hal begitu tak semenarik yang ada dipikirannya. Semua menjadi begitu absurd ketika menyadari hasrat yang menggunung ternyata sama taiknya seperti wacana yang membasi. Pikirku. Kini dalam setiap duduk manisnya, ia adalah saksi dari setiap kesempatan yang kempis selajur dengan hari-hari ditempat itu yang semakin menipis. Dan, duh Gusti, dia masih menemukan dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa selain berkeluh meski terlihat tanpa peluh.

Dalam hari-hari seperti inilah tatkala sepenggal sabda seorang Adimanusia—ah entah, apakah benar-benar ia pahami atau tidak namun—begitu ia amini.

“Lihatlah! aku telah jenuh oleh kebijaksanaanku seperti lebah yang telah mengumpulkan madunya terlalu banyak; aku memerlukan tangan-tangan yang terjulur untuk mengambilnya,” ucapnya seolah-olah dirinya lah Sang Zarathustra itu.

“Tidak, kau bukanlah orang itu," sahutku. "Jalanmu masih terlalu pendek untuk sekadar melampaui dirimu sendiri apalagi segenap manusia yang tertidur. Setengah darimu memang terjaga, tapi lihatlah separoh lagi masih nyaman dalam ranjang empukmu. Dibelai-belai mimpi yang membiusmu seluruhnya. Lalu sebanyak apa madu yang kau bisa berikan pada manusia? Bahkan untuk menagih asa-asamu saja kau masih tak mampu,” ucapku geram.

Ada hening saat diriku menduga-duga sompral mana lagi yang akan disampaikannya. Sepertinya kataku barusan terlalu entah. Seandainya aku diposisinya pasti dia akan merasakan pula dirinya ada pada posisiku. Aku menyaksikan dirinya dibisingkan oleh pikirannya sendiri. Disepikan oleh lamunnya. Dia bukanlah aku, aku tak begitu paham makhluk apa mana yang ada dalam alam pikirannya. Tapi dia adalah aku, dia tahu aku tak mengerti bahwa aku mengerti. Serumit itu.

Mungkin benar ucap kawannya disuatu perbincangan melalui pesan singkat yang ia ceritakan padaku kemarin. Inilah lelah. Ada suatu kala dimana manusia lelah terhadap hidup, lingkungan atau apa yang ada disekitarnya. Hidup tidak harus terus berlari, terkadang kita boleh berjalan atau bahkan sekedar jogging di tempat.
..yang pasti jangan berhenti.”

Dan ketika kuajak beranjak menjauhi tembok bercermin ini, entah apa yang salah dengan kata-kataku tadi. Barangkali telah menyinggungnya.

Dia hilang tanpa berpatah kata.

Saturday, April 28, 2012

Sikap!

Deru amarah akhirnya meluap. Ulah Dursasana kali ini tak termaafkan lagi. Sang Bratasena terbakar. Dursasana seharusnya tahu bahwa dirinya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Dia telah melempari molotov kedalam diri Bratasena. Fatal.
"Camkan, Aku tak akan mati sebelum kusayat-sayat dadamu dan kutenggak setiap darahmu, Dursasana!" Di tengah ruangan itu akhirnya Bratasena memekik sumpah. 
Populasi suara yang sedari tadi begitu padat sekejap melenyap. Juga hening yang kedatangannya melenyapkan ramai pun tak betah hadir lama-lama. Guruh dan petir akhirnya menyambar-nyambar, semua yang hadir di tempat itu menduga bahwa sumpah Bratasena telah diamini oleh Dewa-dewa di Suralaya.
Tak berhenti, istri Puntadewa, Dewi Drupadi yang diseolah-olahkan mainan oleh Dursasana pun mengikrarkan sumpahnya.
"Aku tak akan bergelung sebelum berkeramas menggunakan darahmu, Dursasana!"
Dursasana bergedig.

Friday, April 20, 2012

sebuah laman yang menjuluki diri sebagai malaikat yang terbuat dari kertas


konon mereka tercipta dari nur
dan kau hanyalah ejawantah dari tulang rusuk satu manusia

konon mereka pun bersayap
dan kau tahu sayapmu adalah pena, 

maka terbanglah
bukankah menarik mengarungi awan-awan imaji itu 
ada jalan untuk menggayuki ranting mimpimu
hingga ke pelupuk

bila lelah, jangan enggan singgah dibumi kembali
disini, di tempatku belajar menapak kokoh
tanpa terpapah kiri dan kanan

lalu kemana lagi akan kau kepak sayapmu?
dengarlah dulu saat-saat jemarimu mulai menari
ada sayup genderang menghujam dari rentetan alfabetmu
berirama, membentuk ode bagi apapun yang bisa mendengarnya

sesering ini aku menunggu suara itu.
mengintip angkasa aksaramu
menunggu ceritamu
tentang yang kau lihat dari atas sana

berlipat-lipat babak
episode tak terhitung
terjuntai mengisah
menawarkan emosi 
lalu

menjalar, hingga 
mengadiksi.