Tuesday, February 21, 2012

Selamat!

Hujan sepertinya tak pernah kenyang memakan hari-hari beberapa bulan terakhir, sama halnya malam ini hujan juga tak kunjung mau berhenti. Hal-hal semacam ini yang kadang memaksa kita untuk  membiarkan ‘wacana’ yang telah kita buat akan kembali berakhir menjadi sekedar wacana belaka. Seperti biasa. 

Dari pada mengutuk hujan, malam ini saya lebih memilih duduk manis dan mangais file-file musik yang bersembunyi diantara belantara folder di hardisk sembari menikmati hidung yang semakin tak nyaman untuk bernafas karena diganggu flu.

Februari adalah bulan istimewa. Banyak kisah yang lahir disini, banyak kelahiran yang menjadi kisah  dibidani dibulan ini. Banyak pula orang tua berhutang inspirasi karena telah menamai anak-anaknya dengan menyomot sedikit-banyak susunan huruf pada nama bulan ini. Februari.

Beberapa hari yang lalu baru saya sadar. Tak sedikit dari kawan, orang-orang yang masih/pernah berada disekitar saya, orang-orang yang saya kagumi, pula manusia-manusia yang namanya tak lelah lalulalang dipikiran saya, ternyata mereka berulang-tahun dibulan ini. Atas nama ini dan itu, hari ini saya meramu semacam playlist untuk menemani saya menghabisi Februari ini. Sekedar bentuk lain dari ucapan terima kasih karena energi positif yang selalu kalian sulut baik secara sadar maupun tak kalian sadari. Sekedar bahasa lain dari ucapan terima kasih atas kewarasan dan kegilaan yang bisa kalian hadirkan pada waktu yang tepat. 

"Selamat Berulang Bulan, Februari! Semoga Sang Penyortir Doa, sedang berbaik hati mengabulkan semua harapan dibulan mu."


1.        Seringai – Berhenti di 15

Lagu yang laik diledakkan saat pertama kali membuka mata di hari ulang tahun. Terlalu tua sering jadi alasan untuk tak melakukan kegilaan. Oh tidak, berapa kalipun hari lahir yang kita lalui, tetaplah merasa 15 dan bergegaslah tumbuh meski tanpa harus menjadi tua.
2.        Ramones – Happy Birthday

Hari ulang tahun dan lagu ini adalah upacara dan lagu Indonesia Raya. Bedanya, kita tak perlu berbasa-basi mengangkat tangan hormat untuk mensakralisasi hari ulang tahun. Dan Ramones punya alternatif untuk menjadi khidmat dalam meluhurkan hari ulang tahun kalian. Selamat Ulang Tahun!
3.        Dewi Lestari - Selamat Ulang Tahun
4.        Altered Images - Happy Birthday
5.        Indie Art Wedding - Hidup Itu Pendek Seni Itu Panjang

Hidup itu pendek, tapi seni itu panjang. Jika sepakat, mari berkarya. Mari membahasakan ide-ide kita dengan cara-cara yang kita bisa. Konon, ide-ide akan bernyawa berkali lipat melebihi umur manusia itu sendiri.
6.        Jens lekman - Happy Birthday, Dear Friend Lisa
7.        The Sugarcubes - Birthday
8.        Imperial Teen – Birthday Girl
9.        The Idle Race - The Birthday

10.      NOFX - New Happy Birthday Song 
     Pada akhirnya kita semua harus bercermin, sekedar menengok kembali kebelakang dan mencari jawaban atas kenyataan apakah kita sudah lebih baik, apakah kita sudah bisa berarti bagi diri kita sendiri. juga bagi sekeliling kita. atau kita masih menemukan diri kita laik untuk didendangkan lagu ini oleh seseorang.

Monday, January 30, 2012

Rumah Kaca


Dulu sekali, Pram menyebut ini sebagai politik ‘perumahkacaan’. Dimana setiap tindak yang digiatkan oleh para aktivis pergerakan pada waktu itu akan dimonitor, diawasi. Pemerintah kolonial menebar mata radar mereka disetiap manapun untuk merekam seluruh aktivitas dan pemikiran-pemikiran yang ditulis-sebar melalui surat kabar oleh para aktivis tersebut untuk kemudian diarsipkan, hingga pada kalanya apabila suatu aktivitas telah difatwa mengancam sekilas akan dihabisi.

Hari ini aku melihat sedikit kesamaan: kamu dan para aktivis itu, aku dan para penyebar mata radar itu. Kamu masuk dalam rumah kacaku, kurumah-kacakan. Hanya karena kamu berbeda dari kebanyakan mereka, itulah pembenaran yang kutemukan. Kamu, tulisanmu dan juga buah-buah pikiranmu telah menjadi candu bagiku. Selain makan, tidur dan segala rutinitas statis lainnya, kini kutambahkan rutinitas hariku, sekedar beberapa menit aku tak akan lupa untuk mendamparkan diri ke pulau mayamu. Pulau tempat buah pikiranmu kau semai. Inilah aku, aku yang ingin menjadi saksi benih-benih itu tumbuh. Dan ada kalanya kucuri diam-diam biji dari sana untuk kutanam ditanah gersangku. Entah, jika ini salah, aku hampir tak peduli. Jangan larang aku. Biarkan tanahku ikut menghijau.

Friday, January 27, 2012

"Meledakkan" Senayan 31 Januari Besok



HP yang diam manis didalam saku  tiba-tiba bergetar. Demi hal seremeh-temeh eksistenisal, bergegas saya keluarkan dari saku lalu mengecek dan heyho, ternyata ada sepucuk sms dari seorang kawan lama, Amek.

“ANTI-FLAG live in Jakarta Indonesia at Bulungan Outdor 31 Januari 2012 start at 15.00 WIB. Ticket : 200k.” 16:16:05 02/01/2012


Oh Man! Untuk manusia perantau dengan uang pas-pasan sekelas saya dua ratus ribu itu berat bukan main, sungguh. Untuk membayangkan berada ditengah gigs saja saya ragu-ragu. Ah, tapi saya yakin Amek pasti mengerti bagaimana keadaan dompet saya seyakin keyakinannya bahwa saya akan menjawab smsnya dengan jawaban sediplomatis mungkin. Seperti biasa. Intinya, saya menjawab akan berikhtiar seirit mungkin demi mengumpulkan 200k tersebut, tak lupa dengan seluruh jari-jari membuka mengajak Dia untuk tinggal di kontrakan jika memang dia benar berangkat berwisata-anti-flag-ria kesini nanti.
***
Kemarin, sore setengah malam, saya benar-benar mentransaksikan uang demi tiket tersebut sekaligus memberantakkan keragu-raguan waktu itu. Bersama dua sejawat-anti-flag (Aqba,Ember) kami bersalam sepakat untuk menukar uang kami dengan sebuah kwitansi yang kelak berujung tiket. Demi nama Justin Sane, semoga apa yang telah kami sepakati tadi tak akan berbuah penyesalan. Amin. Tugas saya setelah ini, mengasah lagi amunisi lirik untuk pasrah sing-a-long di barisan paling depan panggung, 31 Januari nanti. Can’t wait!




Mengenang Anti Flag sama saja mengenang kita, Mek. Juga Antok, Mawut dan Condro. Ada ‘sama dengan’ yang hadir diantara kedua hal itu. Aku ingat ketika kita bersama-sama menyelancari internet dibilik warnet yang sama untuk membayar rasa ingin tahu kita tentang apa yang terjadi di Seattle, pasca kita mendengarkan Seattle Was a Riot mereka. Oh ya, ingat juga kan waktu di gigs pertama kita manggung? Ketika kita setengah bingung akan pinjam lagu bertajuk Fuck Police Brutality mereka atau tidak. Juga saat ketika kita memenuhi tracklist mp3 player-nya Mawut dengan lagu-lagu mereka. Dan tentu hari-hari ketika kita belajar memaknai nilai-nilai yang mereka coba sampaikan. Aku ingat itu. 


Meracau tak jelas memang pas saat malam-malam seperti ini apalagi dipupuk dengan hobi baru saya ngepost di blog yang bisa dibilang baru pula. Jika ente emang tidak jadi  nonton tanggal 31 Januari nanti, Mek, tunggu saja racauan kulagi tentang invasi mereka di Jakarta ini. Akan saya laporkan apa saja yang bisa mereka lakukan di Indonesia besok.