Friday, March 29, 2013

Random Headshot

Apa yang kamu butuhkan hanyalah lebih banyak berkegiatan. 
Kamu begitu paham dalam diammu pikiranmu tak bisa kau hentikan. Bahkan banyak lagu yang kau imani tak juga membuatmu tenang dalam diam. Dia memetakanmu pikiran baru untuk kamu lari didalamnya. Apalagi saat hujan yang sekeras ini. Seharusnya kamu menikmatnya: suaranya, bau tanahnya. Melupakan selokan depan rumah yang barang tentu meluap disumbati sampah. Jalan tanpa pengeras disamping rumah yang bakal liat dan brengsek jika dilewati setelah dan setelahnya. Garasi yang masih juga bocor. Tapi lagi lagi kamu dibawa gaspol dalam balap liar pikiranmu. Ah, apa yang kamu butuhkan hanyalah lebih banyak berkegiatan. Sibuk tak penting tak apa karena yang kamu butuhkan hanyalah lebih banyak berkegiatan. 
Membuat semua sesederhana yang seharusnya, sebelum dirumitkan lagi dengan definisi abc sampai z yang lahir dipikiranmu.

Sunday, January 27, 2013

Berdiri Didompet Sendiri


Di kasur melulu siapa yang mau? Banyak di rumah siapa yang tak penat? Sedang pikiran tak mau berhenti, lalulalang kesana kemari. Sedang dompet semakin tak berpenghuni dan minta papi sudah terlalu tak tau diri.
  
Sedang rutinitas berangkat tujuh pagi dan berakhir selepas lima petang menjelang enam pun kamu masih ogah. Belum saatnya katamu, tunggu saja. Nanti saja. Gampang saja. Kamu mau maen dulu sampai kenyang. Kawan segini masih belum cukup. Vakansi sini-sana masih tak puas. Lalu mau apa dompet semakin tak berpenghuni dan minta papi sudah terlalu tak tau diri.

Ah kenapa kamu terlalu peduli? Kamu bukan kawanmu yang itu, yang selalu minta pendapat tentang baju barunya, celana barunya, kalung barungya. Kamu bukan kawanmu yang itu, yang katanya habis berratus ribu tiap menghabisi malam di ruang berdentum kelap-kelip. Kamu bukan kawanmu yang itu, yang butuh banyak untuk ditukar pil brengsek atau candu setan. Kamu juga bukan kawanmu yang itu, yang pacarnya rewel minta ini itu.

Rupanya kamu sudah cukup senang mengabaikan jam bersama kawan-kawan entah untuk meributkan berbagai definisi atau membagi cerita pengalaman kencan atau apa saja di depan kampus kawanmu, di meja penuh menu bersahaja, di kamar kos kawanmu, di  trotoar jalan, di kursi listrik, di lautan, di udara! Dan kamu dapat beberapa lembar dari cakapan dan wacanamu. Lalu kamu main lagi. Lalu atur tujuan vakansi mu lagi. Lalu kamu bilang ke papimu tak usah ngasih duit lagi.

Congkak? Hambok biar!” katamu.

Friday, October 12, 2012

Monolit : Basa dan Basi


Ini bukan saya. Ini kamu. Ya, anggap saja kamu. Saya terlalu malas meracau bulan-bulan ini, jadi kamu saja. 

Entah paceklik atau malah terlalu banyak mikir, hasilnya sama saja, tak ada hasil. Iya kan?

Silakan seenak-udelmu jika kau mau bicara cinta. Tapi sepertinya kamu tak ahli. Garis bawahi sepertinya lho ya. Kamu sendiri yang membuktikan serampangannya sompralmu kala dulu kau bilang kejar cinta itu tak butuh basa-basi. Hahahahaa, kan benar kamu terlalu gegabah. Satu langkah yang kau ambil terlalu jauh ke depan. Tanpa preambule macam—‘silakan makan dulu!’ ‘ah, tidak usah repot-repot, tadi sudah kok!’ dan kau makan juga. Hahahahaa kan benar langkah gilang-gemilang-usah-perlu-basa-basi-maju-bersinarmu bikin dia lari. Seribu langkah menjauh. Maka  harus kembali dulu ratusan langkah jika kebal malu lalu mulailah beramah-tamah terhadap basa-basi, atau kibarkan saja bendera putihnya! Mau tak mau. Kamu pula yang salah langkah, kamu pula yang terlanjur malu, maka sembunyikan saja rupamu di sempak jika bertemu lagi. Hahahahaa, mau apa kamu sekarang?

Sigur rós atau mogwai sama saja, semua bikin kamu biru. Apa lagi ini dini hari. Altar para tersingkir mencoba menyampaikan semua yang tak tersampaikan dalam keramaian. Kamu menyepakati bahwa sunyi itu dini hari, disaat otakmu dibisingkan oleh apapun yang kamu pikirkan. Kamu pasti lagi mengevaluasi otakmu. Asal kamu tahu, banyak orang yang yang mencari sesuatu dari luar diri mereka sekedar untuk mengkambinghitamkan kekalahannya. Bukan kamu. Jangan kamu. Ini semua kamu, ini semua akibat kamu sendiri. Jika Pram tak metolelir basa-basi lagi itu karena hidupnya terlalu kenyang terhadap kekecewaan, sudah habis kepercayaannya atas basa-basi yang selalu diluhurkan demi terlihat manusiawi. Sehingga basa-basi hanya tai di kuku kelingking baginya.

Jika kamu terlahir sebagai seorang jepang, semoga bukan karena hal seremeh ini kau ambil pedang dan menghunus perutmu sendiri. Aku tak paham betul pola pikir mereka dan seberapa mahal harga diri mereka, namun jika yang seperti ini bisa benar alasan harakiri, maka kamu adalah yang begitu beruntung hidup di sini dan sempat dikenalkan dengan Tuhan, sehingga disaat tak kau temukan kekokohan dimanapun termasuk kedalam dirimu, maka kau selalu punya jawaban akhir kemana harus bertumpu : Tuhan. Keluh dan panjatkanlah sepuasmu!


Sudah dengarkan saja musikmu lalu kamu tidur.